MOROTAI – Kelapa Bido, varietas kelapa khas Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, mulai mendapat perhatian untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Selain memiliki potensi sebagai produk perkebunan unggulan, Kelapa Bido juga mulai dilirik untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rapat bersama yang digelar di Aula Polres Pulau Morotai, Jalan Merdeka Nomor 01 Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, Rabu (9/9/2026) pukul 10.00 WIT. Rapat tersebut membahas langkah strategis mendorong pengembangan sektor pertanian, khususnya komoditas Kelapa Bido, sekaligus membuka peluang kerja sama dan investasi di Kabupaten Pulau Morotai.
Rapat dihadiri Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua, Kapolres Pulau Morotai AKBP drh. Dedi Wijayanto, S.H., Kepala Dinas Pertanian Tamhid Bilo, S.P., MMA, Kepala Desa Bido Emil Tadjibu, Camat Morotai Selatan Sri Wahyuni, serta sejumlah pejabat utama dan personel Polres Pulau Morotai.
Kapolres Pulau Morotai AKBP drh. Dedi Wijayanto mengatakan, Kelapa Bido memiliki potensi yang jauh lebih besar apabila dikembangkan secara terencana, tidak hanya sebagai hasil perkebunan, tetapi juga sebagai bahan baku industri yang memiliki nilai tambah.
“Kelapa Bido merupakan salah satu potensi yang perlu kita lihat secara lebih serius. Tidak hanya untuk konsumsi dan kebutuhan masyarakat, tetapi juga bagaimana hasil kelapa dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk peluang pemanfaatannya sebagai bahan baku energi terbarukan,” ujar Kapolres.
Menurutnya, peluang pengembangan Kelapa Bido sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu potensi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Namun, pengembangannya membutuhkan penelitian, pengujian, kajian teknis, serta pemenuhan standar yang berlaku sebelum dapat diterapkan dalam skala industri.
“Ini merupakan peluang yang harus dikaji bersama. Kalau secara teknis dan ekonomis memungkinkan, tentu akan menjadi nilai tambah yang luar biasa bagi Kelapa Bido dan masyarakat Morotai,” katanya.
Peluang Investasi dan Industri Baru
Pengembangan Kelapa Bido untuk kebutuhan industri berpotensi membuka peluang investasi baru di Kabupaten Pulau Morotai. Dengan ketersediaan tanaman yang telah tersebar di berbagai desa, komoditas tersebut dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan melalui pola kemitraan yang melibatkan pemerintah, investor, petani, dan masyarakat desa.
Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai menyambut baik peluang pengembangan dan pengolahan komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah.
Menurutnya, selama ini masyarakat Morotai memiliki berbagai hasil perkebunan seperti kelapa, nanas, mangga, dan komoditas lainnya. Namun, persoalan harga dan pemasaran masih menjadi tantangan bagi petani.
“Ketika harga hasil perkebunan turun, masyarakat kesulitan memasarkan hasil produksi. Karena itu, pengolahan hasil perkebunan menjadi produk yang memiliki nilai tambah merupakan langkah yang sangat positif,” ungkap Rusli.
Ia menegaskan, pemerintah daerah siap mendukung peluang investasi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kalau ada pengembangan industri dan investasi yang serius, tentu pemerintah daerah siap berkolaborasi. Harapannya, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mendapatkan nilai tambah dari hasil perkebunannya,” ujarnya.
88 Desa Sudah Memiliki Kelapa Bido
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulau Morotai Tamhid Bilo menjelaskan, Kelapa Bido kini semakin diminati masyarakat karena memiliki karakteristik pohon yang relatif pendek dan mampu menghasilkan buah dalam jumlah cukup banyak.
“Kurang lebih 88 desa di Kabupaten Pulau Morotai telah memiliki tanaman Kelapa Bido. Salah satu wilayah yang pengembangannya cukup berkembang adalah Desa Ngele-Ngele,” jelasnya.
Menurutnya, Kelapa Bido dapat dikembangkan baik di wilayah pesisir maupun daratan. Bahkan, ketersediaan bibit saat ini semakin meningkat seiring dengan bertambahnya minat masyarakat untuk membudidayakannya.
Sentra Kelapa Bido dalam skala besar antara lain berada di Desa Ngele-Ngele dan Desa Morodadi.
Tamhid menilai, potensi tersebut perlu didukung dengan pendataan yang lebih lengkap, meliputi luas lahan, jumlah tanaman, lokasi sentra produksi, jumlah produksi, ketersediaan bibit, hingga potensi pengembangan di masing-masing desa.
Data tersebut dinilai penting apabila Kelapa Bido ke depan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri, termasuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan baku energi terbarukan dan SAF.
Masyarakat Harapkan Investasi Libatkan Petani
Kepala Desa Bido Emil Tadjibu mengatakan masyarakat pada prinsipnya mendukung upaya pengembangan Kelapa Bido, termasuk apabila ke depan terdapat investor yang serius mengembangkan komoditas tersebut.
Namun, ia berharap setiap investasi tetap melibatkan masyarakat dan pemerintah desa agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Potensi Kelapa Bido tidak hanya ada di Desa Bido, tetapi juga di beberapa desa lainnya. Karena itu, perlu pendataan dan sosialisasi secara menyeluruh sehingga pengembangannya dapat dilakukan secara terarah,” ujarnya.
Ia berharap apabila pengembangan Kelapa Bido masuk ke tahap industri, masyarakat lokal dapat memperoleh manfaat melalui peningkatan pendapatan, lapangan kerja, serta terbukanya peluang usaha baru.
Dari Kebun Morotai Menuju Energi Penerbangan Berkelanjutan
Pengembangan Kelapa Bido sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi peluang jangka panjang yang menarik untuk dikaji. SAF merupakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang dikembangkan sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan dari sektor penerbangan.
Bagi Kabupaten Pulau Morotai, peluang tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas kelapa dari sekadar bahan mentah menjadi bagian dari rantai industri energi bernilai tinggi.
Namun, realisasi pemanfaatan Kelapa Bido sebagai bahan baku SAF tetap membutuhkan kajian ilmiah dan teknis secara menyeluruh, termasuk aspek produktivitas bahan baku, teknologi pengolahan, kelayakan ekonomi, keberlanjutan, serta kesesuaian dengan standar industri penerbangan.
Polres Pulau Morotai mendukung terciptanya situasi yang aman dan kondusif bagi pengembangan ekonomi masyarakat serta investasi yang memberikan manfaat bagi daerah.
Dengan potensi Kelapa Bido yang telah tersebar di berbagai desa, meningkatnya minat masyarakat untuk membudidayakannya, serta terbukanya peluang pengembangan ke sektor industri dan energi terbarukan, komoditas khas Morotai tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Pulau Morotai.
Rangkaian kegiatan rapat selesai pada pukul 11.00 WIT. Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan kondusif.Saya juga bisa mempertajam lagi menjadi versi 5–7 paragraf ala Detik/Tribun, dengan angle utama “Kelapa Bido Morotai Dilirik Jadi Bahan Baku SAF, Investor Mulai Melirik” agar lebih kuat untuk dikirim ke media.














